“Bisa gak sih stop ngomongin masalah ini?”
“Iya nanti aja deh gue selesainnya, nanti juga masih sempet”
“ya ya ya, gue udah denger saran lo, makasih”
“Gak kok gue gak kecanduan ngerokok, orang masih sehat-sehat aja, gue bisa berhenti kapan aja lagi”
Hayo, sering denger kalimat-kalimat ini? Ini adalah bentuk-bentuk denial dalam kalimat yang sering kita dengar.
Apa sih itu Denial?
Denial adalah salah satu cara kita melindungi diri ketika menghadapi perasaan yang menyakitkan, dengan cara mengabaikan kenyataan atau menghindari kondisi yang menimbulkan kecemasan.
Kenapa seseorang denial?
Denial terjadi untuk melindungi seseorang dari kecemasan dan perasaan negatif yang mungkin timbul dari suatu peristiwa yang tidak mengenakkan. Dengan melakukan denial orang tersebut jadi tidak perlu menghadapi kenyataan atau konsekuensi yang ada dari sebuah peristiwa.
Denial juga terjadi ketika:
Bagaimana bentuk Denial?
Selain contoh-contoh kalimat yang kita lihat sebelumnya, denial juga punya banyak bentuk lainnya, yang seringkali tidak kita sadari. Misalnya:
Sebenarnya, denial dapat menjadi suatu cara yang membantu kita ketika menghadapi masalah, terutama kejadian besar atau kejadian traumatik. Denial memberikan kita waktu untuk menenangkan dan menyiapkan diri untuk menghadapi perubahan dalam hidup kita.
Namun, jika dilakukan terus-menerus, denial juga dapat menjadi bumerang bagi kita.
Dampak negatif denial:
1. Kita tidak pernah menyelesaikan masalah yang ada.
Ketika kita menghindari masalah, kita hanya membiarkan suatu masalah terjadi berlarut-larut tanpa penyelesaian.
Kita tidak pernah mencari solusi ataupun hal yang dapat membantu kita. Kita jadi menolak bantuan atau saran yang ditawarkan orang terdekat kita, yang akhirnya dapat mempengaruhi hubungan kita.
Lebih parah, ketika kita denial karena masalah kesehatan, kita jadi tidak pernah mencari bantuan medis untuk mengobati kita, dan lama-kelamaan dapat membuat penyakit kita semakin parah.
Contoh lainnya ketika orang tua tidak mau menerima ketika anaknya mengalami gangguan psikologis tertentu, beranggapan bahwa mungkin hanya keanehan sementara, atau memang anaknya tidak cocok dengan lingkungannya.
Padahal jika diabaikan terus-menerus, orang tua bisa membuat gangguan ini lebih parah karena tidak teratasi, anak juga berpotensi mengalami dampak negatif lain seperti penolakan dari lingkungan, dan lain-lain.
2. Kita mungkin saja melampiaskan emosi kita ke perilaku lain yang lebih negatif.
Emosi yang tidak pernah divalidasi dan diterima juga tidak akan pernah selesai atau hilang. Emosi tersebut tetap bertahan di dalam diri kita, dan mungkin saja muncul dalam bentuk lain, misalnya:
Nah, udah paham kan sekarang kenapa denial tidak membantu sama sekali. Kita hanya menumpuk dan membuat masalah semakin parah karena tidak kita selesaikan. Ibaratnya kita punya apel yang gak kita suka, bukannya kita kasih orang atau kita olah lagi, kita malah simpan saja apel tersebut di meja, sampai apelnya busuk dan bikin masalah baru karena bau dan kotor.
Bagaimana caranya untuk bisa menghentikan kebiasaan Denial berlebihan?
Yuk mulai perlahan belajar menghadapi masalah yang ada. Gak perlu langsung tiba-tiba selesai kok, pelan-pelan yang penting berproses bersama. Kalau kamu butuh bantuan professional, jangan ragu buat langsung atur jadwal konseling dengan psikolog PRENDS yah!
Referensi :
Cherry, K. (2022, December 8). Denial as a Defense Mechanism. Verywell Mind. Retrieved December 27, 2022, from https://www.verywellmind.com/denial-as-a-defense-mechanism-5114461
Gepp, K., & Boland, M. (2021, November 18). Understanding Why Someone You Love Is in Denial. Psych Central. Retrieved December 27, 2022, from https://psychcentral.com/blog/how-to-help-a-loved-one-in-denial#how-to-help
Hogan, L. (2021, September 14). What to Know About How Denial Affects Your Life. WebMD. Retrieved December 27, 2022, from https://www.webmd.com/mental-health/features/how-denial-affects-your-life